Sabtu, 20 08 2022  
 
Bencana Besar Kelaparan di Ukraina pada 1930

RL | Internasional
Rabu, 16 Februari 2022 - 09:41:08 WIB


TERKAIT:
   
 
TIRASKITA.COM - Kebencian warga Ukraina terhadap Rusia punya akar sejarah yang panjang. Saat bencana kelaparan melanda pada 1930-an, sedikitnya empat juta orang Ukraina meninggal kelaparan akibat pemaksaan kebijakan pertanian kolektif era Diktator Uni Soviet, Joseph Stalin.

Wartawan BBC, Fergal Keane, mengunjungi Kota Kharkiv dekat perbatasan Rusia untuk menemui segelintir penyintas bencana dahsyat tersebut.

Petro Mohalat ingat betul apa yang terjadi tatkala razia makanan gelombang pertama terjadi pada Musim Dingin 1932 lampau.

Bersama saudara-saudaranya, pria yang kini berusia 95 tahun itu turut menggembok pintu dan menutup jendela rumah kayu yang bergetar lantaran gedoran aparat.

Petro masih berumur lima tahun ketika 'brigade' komunis tiba di desanya. Nenek Petro menyuruh para bocah untuk bersembunyi di mana saja.

"Saat itu sangat menakutkan. Para anggota brigade membawa cangkul garu ke semua rumah untuk mendapatkan roti. Mereka memakai linggis untuk masuk rumah. Kemudian mereka juga mengunjungi semua lumbung untuk menemukan roti yang dikubur," kenang Petro.

Berbekal perintah Stalin, para pejabat komunis menyita makanan dan mencegah para buruh yang hendak meninggalkan desa guna mencari pasokan pangan. Mereka dihukum karena menolak pertanian kolektif paksa.

Rakyat Ukraina menyebutnya 'Holodomor' atau mati akibat kelaparan. Jumlah orang yang meninggal akibat bencana kelaparan pada 1932-1933 diperkirakan mencapai empat juta jiwa.

Kini, di tengah kekhawatian invasi Rusia, kenangan pahit itu semakin memupuk kebencian terhadap Moskow.

"Ayah saya harus menyerahkan segalanya untuk pertanian kolektif: sapi kami, kuda, hingga ember. Ibu saya sangat marah," kata Petro.

Pria itu tinggal di Desa Kovyyhi, sejauh 60 kilometer dari perbatasan Rusia. Desa tersebut terhubung dengan sebuah ladang melalui jalan sempit yang kedua sisinya dipenuhi salju. Suasananya gelap gulita ketika malam tiba.

Bagi para penyintas bencana kelaparan, pemandangan itu membangkitkan kenangan buruk.

Oleksandra Zaharova, 98, ingat betapa dirinya selalu lapar dan mencari makanan. Wajah mereka yang meninggal pun tertanam di benaknya.

"Apa yang saya lihat?" tanyanya. "Saya melihat orang-orang meninggal. Mereka menggali lubang besar dan membuang semua jenazah di sana."

Ayah Oleksandra berhasil kabur menuju bagian barat Ukraina sembari membawa barang-barang berharga yang tersisa untuk ditukar dengan makanan.

"Tapi kami tidak dapat apapun. Kami kehilangan segalanya," kata Oleksandra.

Cicit Oleksandra, Dmytro, tumbuh besar mendengarkan kisah kakek buyutnya soal Holodomor. Kini, dia menjadi tentara Ukraina yang bersiap menghadapi serbuan di bagian timur negara tersebut.

Kehilangan terbesar

Berbagai wilayah kekuasaan Uni Soviet menderita akibat kebijakan pertanian dan penindasan keji Stalin, tapi Ukraina mencatat jumlah kematian terbanyak.

Rusia membantah anggapan bahwa Joseph Stalin khawatir adanya sentimen kubu nasionalis sehingga orang-orang Ukraina sengaja disasar dan dibuat mati kelaparan.

Anggapan itu muncul karena lebih dari satu dekade sebelumnya, Ukraina berjuang mendirikan negara merdeka tapi dikalahkan Tentara Merah.

Tapi upaya untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi juga dihambat. Mahkamah Agung Rusia baru-baru ini memerintahkan penutupan Memorial, LSM tertua Rusia yang berupaya mengungkap penindasan era Soviet.

LSM itu dituduh menggambarkan Uni Soviet sebagai sebuah negara "teroris", alih-alih "bangga terhadap kejayaan masa lalu".

Di ruang bawah tanah Institut Sejarah Nasional di Kiev, kenangan kelam masa lalu dapat dirasakan seperti dingin dan gelapnya ruangan itu.

Di sinilah sejumlah tahanan lenyap tanpa jejak, termasuk mereka yang ditangkap pada waktu bencana kelaparan melanda.

Direktur institut, Dr. Anton Drobovych memberitahu bahwa bangunan ini dulunya ditempati polisi rahasia. Kakeknya turut dibunuh rezim Stalin.

Dengan cahaya dari ponsel, kami menjejaki lorong sempit, melalui deretan sel-sel rahasia yang digunakan untuk menyiksa ribuan orang sampai mati.

Drobovych menekankan, tanggung jawab kekejian masa itu tidak hanya dipikul Stalin saja.

Penindasan dan pertanian kolektif tidak bisa terwujud tanpa keterlibatan sejumlah pejabat komunis Ukraina.

Dia menilai upaya Rusia saat ini dalam memaksakan kehendak pada Ukraina menggaungkan masa lalu Soviet.

"Mereka melindungi Stalin, mereka menyembunyikan kebenaran, mereka menyerang kami. Mereka tidak menganggap kami sebagai negara independen, mengapa? Kami tidak paham mengapa," serunya.

emua negara paham, kenangan adalah senjata yang kuat. Kisah Holodomor adalah inti dari pemikiran Ukraina sebagai sebuah negara yang menentang dominasi Rusia.

Saat mengenang kehororan bencana kelaparan masa lalu, Oleksandra Zaharova merasa punya tanggung jawab untuk membagikan kisah tersebut kepada sesama orang-orang Ukraina.

Namun, ketika ditanya apakah dia dapat menikmati hidup setelah lolos dari maut saat Holodomor, dia mengingat dua anaknya yang meninggal dalam bencana kelaparan selanjutnya.

Ya, Oleksandra selamat, tapi kehidupan macam itu bukan yang diinginkan warga Ukraina lain.




comments powered by Disqus


Berita Lainnya :
 
  • Lagi-lagi Guru Bersertifikasi Mengabdi 20 Tahun Dipecat Yayasan Kalam Kudus. Apakah ini Diskriminasi
  • Hari Jadi ke-77 Provinsi Jawa Barat : Momentum Penghormatan Kepada Para Pendahulu Pejuang Prov. Jaba
  • Arahan Terbaru Kapolri ke Jajaran: Raih Lagi Kepercayaan Publik Dan Hindari Pelanggaran
  • Jokowi: "Kejaksaan Menunjukan Taringnya Dalam Penyelesaian Kasus Korupsi Besar"
  • 45 Pengacara Dari GPSH Siap Dampingi Keluarga Perwira TNI Dibunuh Brutal Pengusaha Aseng
  • Keren... 6 Personel Polda Riau Raih Penghargaan Medali PBB
  • DISDAGKOPERIN Kembangkan Aplikasi COLLACT-CE, Bersama UPI, POLBAN Dan BJB Dorong Pemberdayaan Kopera
  • DPRD Jabar Apresiasi Surat Edaran Siaran Keagamaan KPID Jabar
  • Oknum Polisi Di Nias Ditangkap Jual Sabu Pesan Dari Pekanbaru, Siapa Ya Bandarnya ?
  •  
     
     
    Senin, 19 April 2021 - 16:30:54 WIB
    Komsos Babinsa Koramil 07/Alasa Kodim 0213/Nias Sampaikan Protokol Kesehatan
    Senin, 12 Juli 2021 - 08:54:56 WIB
    DPRD Minta Pemprov Jabar Sosialisasikan Fitur Obat dan Multivitamin Gratis Sampai Ke Tingkat Desa
    Sabtu, 09 April 2022 - 10:55:22 WIB
    Danlanud S Sukani, Pimpin Upacara HUT Ke 76 TNI AU Tahun 2022
    Jumat, 29 Mei 2020 - 12:12:40 WIB
    LAWAN COVID-19
    Bupati Berikan Bantuan Kepada Masyarakat Salo Yang Tidak Terjaring Data Dinsos
    Kamis, 20 Februari 2020 - 00:55:39 WIB
    Presiden Jokowi Ke Riau
    Besok Presiden Jokowi Datang ke Riau
    Sabtu, 15 Januari 2022 - 17:48:20 WIB
    Kapolsek & Danramil Silaturahmi Ke Ponpes
    Sabtu, 06 Februari 2021 - 17:04:29 WIB
    Unit Reskrim Polsek Perhentian Raja Tangkap Pengedar Shabu di Desa Lubuk Sakat
    Rabu, 13 Januari 2021 - 07:54:06 WIB
    Panglima TNI : Lokasi Penemuan FDR Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Sesuai Perkiraan
    Kamis, 24 Februari 2022 - 08:37:44 WIB
    Coba-coba Beroperasi, 15 Wanita Rawan Sosial Ditertibkan Satpol PP Tapteng
    Senin, 20 Juli 2020 - 19:21:03 WIB
    Polres Simeulue Adakan Press Release Terhadap Kasus Pencurian dan Kasus Pencabulan di Simeulue
    Rabu, 06 Januari 2021 - 15:00:24 WIB
    Pihak Kepolisian: Penetapan Tersangka Habib Rizieq Sah
    Senin, 20 September 2021 - 18:05:30 WIB
    Gandeng PMI Lanud Ats Gelar Donor Darah, Guna Peringati HUT TNI
    Kamis, 20 Mei 2021 - 06:56:45 WIB
    Solusi Permasalahan Sampah Bandung Raya Perlu Direncanakan Secara Serius
    Senin, 26 April 2021 - 10:52:28 WIB
    Setiap Hari Diajak Berhubungan Badan,
    Seorang Biduan Sandera Remaja Laki-laki Tiga Hari
    Minggu, 17 Mei 2020 - 20:43:12 WIB
    LAWAN COVID-19
    Disorot KPK dalam Penanganan Covid-19 Empat Titik Rawan Korupsi
     
    Riau | Nasional | Ekonomi | Hukrim | Politik | Olahraga | Kesehatan | Budaya | Pendidikan | Internasional | Lifestyle
    Advertorial | Indeks Berita
    About Us | Redaksi | Pedoman Media Siber | Info Iklan | Disclaimer
    Copyright © 2020 PT. Tiras Kita Pers, All Rights Reserved